Minggu, 04 Juni 2017

KARANGAN ISLAM DI ACEH



                                             KURANGNYA ISLAM DI ACEH
                                                         (tanoeh lon sayang)
            Oleh : AZIZAH
            Nim : 160404043
            Islam merupakan suatu ajaran agama yang di perintahkan oleh Allah SAW. Melalui perantara Nabi Muhammad Saw, untuk di sampaikan kepada seluruh ummat manusia mengandung suatu ajaran-ajaran kebaikan di dalam kehidupan bermasyarakat yang bertujuan untuk memberi petunjuk jalan kebenaran, agar selamat di dunia dan akirat tentunya.
            Penyebaran agama islam pertama sekali di perluaskan oleh Nabi Muhammad Saw, dengan melalui hitjrahnya dari mekkah ke madinah. Sejak saat itulah penyebaran agama islam tersebar keseluruh pelosok dunia seperti: ARAB SAUDI ARRABIAH, EROPA, ASIA,INDONESIA dan kota-kota yang lainnya. Dengan berbagai pengorbanan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw, baik itu berupa cobaan, rintangan, halangan, dan lain sebagainya, dari negara kenegara, bangsa kebangsa, wilayah kewilayah, maupun daerah kedaerah, sehigga sampailah ajaran islam ke provinsi ACEH tercinta ini.
            Nah, kalou kita membahas tanoeh lon sayang (ACEH), ACEH merupakan suatu wilayah dari negara REPUBLIK INDONESIA (RI), yang mayoritasnya menganut agama isalam kira-kira hampir 75% dari 100% masyarakat ACEH yang menganut agama islam, dari kerajaan-kerajaan ACEH terdahulu. Bahwa sannya ACEH di juluki dengan sebutan seramoe mekkah yang artinya wilayah ACEH ini hampir semua masyarakatnya menganut agama islam, taat kepada Allah Swt, mematuhi perintah-perintahnya, dan mengerjakan segala seruhan dari Rasuluallah Saw (sebagai ummat yang terbaik di sisi Allah).
            Wilayah ACEH juga penuh dengan syariat-syariat islam atau aturan-aturan tentang keislaman, seperti contohnya saja, syariat berpakaian, syariat perzinaan, syariat peraturan-peraturan dan syariat-syariat yang lainnya. Oleh karena itu, dengan banyaknya hukum-hukum syariat yang berlaku di wilayah ACEH, banyak sekarang kita lihat bahwa sannya masyarakatACEH sangat sopan santun dalam berdiskusi, berinteraksi, kata-latanya juga sopan, lemah lembut dan saling menghargai antara sesama baik antara yang muda dengan yang tua.

            Namun sekarang ini, dengan perkembangan zaman yang begitu canggih, moderen yang di bawa oleh orang-orang asing, baik dari ajaran belanda, jepan, china, inggris, amerika dan sebagainya seperti dalam pengruh berbusana, tingkat laku dan pengaruh-pengaruh yang lainnya. Mulai tercium oleh masyarakat ACEH, dengan sedikit demi sedikit, masyarakat ACEH mulai melakukan ajaran-ajaran atau budaya-budaya yang di bawa oleh negara luar, seperti dalam busana, bartingkah laku dan lain-lainnya.
            Sekarang ini sering sekali kita lihat bahwa masyarakat ACEH mulai sedikit demi sedikit mulai melupakan syariat-syariat yang berlaku di wilayah ACEH sendiri. Banyak relita sekarang ini masyarakat ACEH misalnya dalam berbusananya, memakai celana jens, baju ketat, baju tembus pandang, rambut terbonding, dandanan dan lain sebagainya, yang sifatnya mereka lebih membuka aurat. Bukan saja dari segi busana/ pakaiannya tetapih dari segi yang lainnya juga sudah tampak seperti dalam berinteraksi/ berkomunikasi yang dulunya masyarakat ACEH, bahasanya lebih lemah lembut dalam berinteraksi juga sopan santun, saling menghargai antara sesama baik yang dengan yang lebih tua.
            Tetapih sekarang tidak demikian kita dapatkan lagi, dimana sekarang masyarakatnya itu sudah tidak taat lagi dalam mematuhi syariat-syariatnya, baik dalam berinteraksi/ berkomunikasi dalam hukum-hukumnya, misalnya dalam berbicara kasar dengan nadanya yang keras, begitu juga dalam budayanya yang dulunya masyarakat khusus untuk anak-anak perempuan bersifatnya anak rumahan. Sekarang menjadi terbalik artinya banyak sekarang ini kita lihat di jalan-jalan, apalagi pada malam minggu contohnya ada pasangan-pasangan yang belum mempunyai ikatan pernikahan/ tali pernikahan yang dinama banyak sekarang ini kita dapatkan di jalan-jalan dengan pemandangan yang tidak menyenangkan ( berboncengan dengan laki-laki).
            Begitu juga di dalam mengerjakan ibadah sholat yang dulunya lebih mementingkan mengerjakan sholat dari pada pekerjaan nya, terbalik dengan sekarang ini mereka lebih mengutamakan pekerjaan nya dari pada mengerjakan sholat, seperti ketika waktu azan komandan perintah untuk mengerjakan ibadah sholat, namun realitas sekarang ini kita lihat misalnya di sebuah masjid hannya ada imam dengan makmum sekitar 3 sampai 4 orang makmum yang mengikut imam di dalam sebuah masjid. Kenapa bisa terjadi demikian??.


            Dikarenakan mereka lebih mengutamakan/ memintingakan pekerjaan nya di bandingkan untuk mengerjakan ibadah sholat, misalnya kita lihat waktu zuhur yang di mana waktu tersebut orang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing, biasanya pada waktu tersebut banyak sekali terdapat masjid-masjid yang hannya ada imamnya saja, begitu juga waktu subuh. Pernah waktu itu di kampung saya kejadiannya di ACEH TIMUR, KECAMATAN SIMPANG ULIM, DESA GAMPONG BLANG, waktu sholat subuh hannya ada imam saja dalam arti kata lain tidak ada makmum, hal tersebut merupakan suatu contoh berkurangnya agama islam di ACEH. Lalu bagaimanakah dengan sebutan seramoe mekkah ??, bukankah seramoe mekkah itu mayoritasnya masyarakat ACEH manganut agama islam dan penuh dengan syariat-syariat keislaman, penyebutan tersebut lebih pantas di sebutkan pada waktu zaman dulu yang di mana masyarakatnya lebih tekun beribadah, artinya tidak sesuai dengan sekarang ini ??. kenapa bisa terjadi demikian??.
            Hal tersebut dapat di pengaruhi oleh beberapa faktornya antara lain :
            Faktor budaya, faktor sosial, faktor internet dan lain-lainnya namun dari faktor-faktor tersebut lebih banyak di pengaruhi oleh faktor internet yang di bawakan oleh negara EROPA didalamnya berisi budaya, peranan sosial dan lain-laninya, tujuan dari negara EROPA merancang demikian tidak lain dan tidak bukan untuk menghancurkan agama islam di negara INDONESIA khususnya di ACEH. Namun kita sebagai masyarakat yang menganut agama islam yang di bawakan oleh orang tua kita dan nenek moyang kita, tentunya kita tidak boleh membiarkannya begitu saja artinya di mana kita harus memberantaskan, agar hal tersebut tidak terjadi terus dan berkembang di dalam masyarakat di wilayah ACEH tentunya. Cara untuk mengatasinya bisa dengan cara: mempererat syariat-syriat yang berlaku, menetapkan aturan-aturan yang bernuasa islami, semoga dengan cara yang demikian bisa mengatasi terjadinya perkurangan agama islam di wilayah ACEH, agar hal ini tidak berkembang untuk anak cucu kita nantinya.
            Jadi berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai masyarakat ACEH  yang di juluki dengan seramoe mekkah agar mempertahankan ajaran-ajaran atau aturan-aturan dan syariat islam tentunya, agar pengaruh dari luar negeri baik dalam tentunya bisa kita kendalikan/ mengatasinya.        

Senin, 09 Januari 2017

ACEH JUARA II MISKIN

OLEH : AZIZAH  

Assalamualaikum Warahmatuallahi Wabarakatuh.

Perkenalkan nama saya azizah. Saya salah satu mahasiswi Universitas Islam Negeri Banda aceh yaitu Universitas UIN AR-RANIRY, kabupaten Darussalam, di jurusan pengembangan masyarakat islam (PMI) kesejahteraan sosial, di leting (semester) satu. Tujuan saya di sini ingin mengarang sebuah peristiwa (fenomena) tentang :” ACEH JUARA II MISKIN.” Khususnya di pulau sumatra negara indonesia.

Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti: makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan berasal dari kata miskin, pendapat awalan ke dan akhiran an, menjadi kemiskinan. Dalam kamus besar bahasa indonesia edisi baru (2012:12:58), miskin artinya tidak berharta benda, serba kekurangan, papa, dan sangat merata.    
                                          
Menurut pendapat para ahli Mubyatoc (1998), mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu situasi serba kekurangan dari penduduk yang terujud dalam bentuk rendahnya pendapatan, dan disebabkan oleh rendahnya keterampilan, produktifitas, pendapatan, lemahnya nilai tukar produksi dan terbatasnya, kesempatan berperanserta dalam pembangunan. Rendahnya mendapatkan penduduk miskin, menyebabkan rendahnya produktifitas dan meningkatkan beban ketergantungan masyarakat.
Kemiskinan di indonesia bukanlah hal yang baru bahkan sudah di kenal dan di selidiki oleh pemerintah Kolonia Belanda sejak awal abab 20. Kemiskinan haruslah mendapatkan perhatian yang utama, karna ke mana saja kita pergi dapat kita jumpai kemiskinan. Di daerah perkotaan banyak berlaku ladang mobil yang harga mahal, namun juga masih dapat banyak kita jumpai para pejalan kaki dan tukang peminta- minta (pengemis). Di daerah pendesaan masih banyak di jumpai penduduk yang tidak cukup makan. Ini semua merupakan pengertian ceminan kemiskinan yang secara realistik harus di akui oleh negara indonesia. Kemiskinan dewasa ini telah mwngalami peluasan, seiring dengan kompleknya faktor penyebab, indikator maupun permasalahan lain yang di pandang dari dimensi ekonomi saja, melainkan semakin meluas ke dimensi sosial, kesehatan, pendidikan, dan bahkan politik.

Menurut dari pengertiannya, kemiskinan dapat di bedakan menjadi tiga golongan yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan. Seseorang tergolong miskin relatif apabila seseorang tersebut sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemiskinan masyarakat seterusnya. Seseorang tergolong miskin kultural apabila seseorang atau kelompok masysrakat tersebut memiliki sikap tidak mampuan berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya. Sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.     
                

“ACEH JUARA II MISKIN DI SUMATRA NEGARA INDONESIA”.
 Badan pusat statistis (BPS) Aceh menuliskan profil kemiskinan di daerah ini Maret 2016. Data- data tersebut menunjukkan persentase angka kemiskinan di aceh hingga Maret 2016 tertinggi ke dua(16,73 persen) di pulau sumatra, setelah bengkulu (17,32 persen). Peningkatan kemiskinan ke dua profinsi ini masih sama seperti periode Januari september 2015. Kepala BPS Aceh, Wahyudin mengucapkan aceh masih termiskin ke dua di sumatra dalam konferensi per di kantor BPS Banda Aceh, senin (18/7). Kemiskinan ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah di aceh “ artinya tim keordinasi penangulangan kemiskinan daerah (TKPKQ) harus bekerja optimal guna menunjukkan kemiskinan yang terjadi di profinsi ini.”          

Dari hasil surfe, terdapat 10 kabupaten kemiskinan di Aceh yaitu gayo lues, Aceh singkil, Bener mariah, Aceh barat, Pidie jaya, Pidie dan Semeulue. Lima kabupaten  / kota dengan tingkat   kemiskinan terendah  pada  tahun    2015  yaitu” Banda Aceh 7,72 persen, Langsa 11,62 persen, Lhouseumawe 12,16 persen, Aceh selatan 13, 24 persen, Aceh tamiang 14,57 persen.Menurut Munzani amatan/ DeAS, selama periode 2014-2015 daerah dengan tingkat kenaikan kemiskinan terparah yaitu Aceh singkil yang mencapai 3,95 persen, di mana tahun 2014 angka kemiskinan di singkil hannya 17,11 persen dan tahun 2015 naik mencapai 12,72 persen, untuk menurunkan angka kemiskinan ini, BPS menawarkan dengan pemerintah aceh memberikan bantuan melalui program kerja, termasuk modal padat karya yang dapat menghasilkan uang bagi masysrakat yang masih miskin.   

Terjadinya kemiskinan yang meningkat di ketahun ke tahun di aceh dapat di sebabkan oleh faktor-faktor tertrntu. Penyabab terjadinya kemiskinan di antaranya faktor laju pertumbuhan penduduk di mana pertunbuhan penduduk. Meningkatnya jumblah penduduk di indonesia semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumblah penduduk yanh bekerja tidak sebanding dengan jumblah keterangan penghasilan yang minim di tambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus di tanggung membuat. Penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Faktor selanjudnya yaitu Anggaran kerja di mana faktor ini penduduk yang bekerja dan pengagguran. Penduduk yang berumur di dalam batas. Usia kerja mendapatkan penduduk yang di dapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sendangkan ada sebagian penduduk di indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih.    

Faktor yang ke- tiga yaitu tingkat pendidikan yang rendah. Ini di sebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan  tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry. Jelas sekali di butuhkan lebih banyak tenanga kerja yang mempunyai skill dan paling tidak dapat membaca dan menulis. Dan faktor ke- empat kurangnya perhatian dari pemerintah yaitu pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memetuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya. Dan faktor yang terakhir yaitu Distribusi yang tidak merata di mana faktor yang terakhir ini, kemiskinan muncul karena adanya ketidak samaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hannya memiliki sumber daya dalam jumblah yang terbatas dan kualitasnya rendah.         

Dengan adanya penyebab terjadinya kemiskinan di Aceh khususnya pulau sumatra negara Indonesia kemudian timbullah Dampak atau akibatnya dari kemiskinan, di antaranya dampak Pengagguran merupakan dampak dari kemiskinan. Berhubungan pendidikan dan ketrampilan hal yang sulit di raih masyarakat, maka masysrakat sulit untuk berkenbang dan mencari pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan. Di karenakan sulit untuk bekerja maka tidak ada pendapatannya membuat pemenuan kebutuhan sulit. Kekurangan industry dan kesehatan dan tak dapat memenuhi kebutuhan sulit lainnya. Dampak selanjudnya yaitu dampak Kriminaliatas dimana kesulitan mencari nafkah mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan cepat tampa memerdulikan halal dan haramnya uang sebangai alat tukar guna memenuhi kebutuhannya. Misallya saja perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, pembengalan, penjambretan dan masih banyak lainnya. 
    
Faktor yang ke- tiga putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan. Sudah pasti dampak dari kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan, menyebabkan masyarakat miskin putus sekolah, karena tidak lagi mampu membiayai sekolah. Putus sekolah dan hilangnya kesempatan pendidikan akan menjadi penghambat rakyat miskin dalam menambah ketrampilan, mencangkau cita-cita dan mimpi mereka. Dan faktor ke- empat Kesehatan sulit untuk di dapatkan karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari. akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya pengobatan yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat di jangkau oleh masyarakat miskin. Ini menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar. Dan dampak yang terhkir adalah Buruknya generasi penerus adalah dampak yang berbahaya dari akibat kemiskinan. Jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karna terpaksa maka akan ada gangguan pada anak itu sendiri, seperti gangguan pada perkembangan mental, fisik, dan cara berfikir mereka sebut saja contohnya anak-anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal, tidur di jalan dan tidak sekolah. Seperti juga pengamen untuk mencari makan dan lain sebangainya.

Dampak kemiskinan pada generasi penerus merupakan dampak dan buruk, karena anak-anak seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapatkan pendidikan, mendapatkan nutrisi baik dan lain sebangainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi seterusnya.

Setelah terjadinya Dampak-Dampak atau akibatnya dari kemiskinan di Aceh selanjudnya ada cara-cara untuk mengatasi kemiskinan, supaya tidak terjadi secara terus menerus di kalangan masyarakat, cara yang pertama dengan Peningkatan fasilitas jalan dan listrik di pendesaan di mana berbangai pengalaman di china dan vietnam dan juga di indonesia sendiri menunjukkan bahwa pembangunan jalan di area pendesaan merupakan cara yang efektif dalam mengurangi kemiskinan. Cara selanjudnya dengan membangun lembaga- lembanga pembiayaan MIKRO (LPM) yang memberi mamfaat kepada rakyat miskin dimana dengan menyelesaikan rancangan undang- undang mengenai LPM yang memberikan dasar hukum dan kerangka kelembangaan bagi lembaga pembiayaan MIKRO untuk menyalurkan dana bagi rakyat miskin. Dan cara yang ke-tiga dengan Perbaikan atas kualitas pendidikan dan penyediaan pendidikan untuk sekolah menengah yaitu dengan membantu pengembangan manajemen dan pembiayaan pendidikan yang bertumpu pada peran sekolah. Menyediakan dana bantuan pendidikan bagi masyarakat miskin. Mengubah biasiswa jaring pengamat sosial.

Dan cara yang ke-empat dengan Menyediakan lebih banyak dana untuk desa-desa miskin yaitu memberikan formulir Dana Alokasi umum (DAU), agar memungkinkan pemerintah daerah agar dapat menyediakan pelayanan dasar yang cukup baik. Meningkatkan pemberian DAK untuk menunjang target program nasional pemgentasan kemiskinan. Dan alokasi khusus dapat menjadi insentif bagi pemerintah daerah untuk memenuhi target pemenuan tingkat kemiskinan.

Dan cara yang terakhir yaitu dengan cara Merancang perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran dimana pemerintah dapat meningkatkan bantuan pada masyarakat, di samping mengadakan penghematan dengan cara, menguragi subsidi bahan bakar minyak (BBM). Menggunakan tabungan pemerintah yang ada, untuk mengembangkan program perlindungan sosial. Mungkin dengan cara- cara demikian kemiskinan di Aceh khususnya di pulau sumatra negara indonesia ini dapat terselesaikan dengan baik, agar masyarakat Aceh dapat hidup Aman, Nyaman, dan Sentosa.  

Dari peristiwa / fenomena tentang kemiskinan yang terjadi di Aceh khususnya di pulau sumatra negara Indonesia, saya mempunyai pesan dan kesan. Pesan menurut saya : Semoga pemerintah negara Indonesia dapat mencarikan solusi dalam penyelesain permasalahan kemiskinan di masyarakat negara Indonesia, supaya masyarakat dapat hidup ke arah yang lebih baik.

Kesan menurut saya : Alangkah baiknya peemerintah turun ke lapangan langsung untuk memberantaskan kemiskinan- kemiskinan di negara kita ini, ataupun dengan lebih banyak memberikan bantuan- bantuan berupa seperti : JKS (jaminan kesehatan sosial) untuk masyarakat miskin, bantuan pendidikan, beras miskin, peluang pekerjaan dan lain-lain.

Demikianlah karangan dari saya, di dalam karangan ini saya menyadari banyak terdapat kesalahan, baik itu dari penulisan ataupan dari segi karangan. Dengan ini saya sangat mengharapkan kritik supaya untuk membangun karangan ini.

Akhir kata saya akhiri, Wabila hitaufid Wahidayyah.
 Wassalamualaikum Warahmatuallahi Wabarakatuh.